_Bismillaah,_
TOP OF TOTALITY
Siapapun, yang ingin meraih kemenangan dalam sebuah kompetisi, termasuk kompetisi dalam bulan Ramadhan, dia harus totalitas mengerahkan semua potensinya.
Ibarat seekor kuda pacu, ketika ingin mencapai ke garis final, dia harus mengerahkan semua konsentrasi, startegi, kekuatan, kecerdasan, dan semangatnya untuk menjadi pemenang yang sportif dalam sebuah arena pertandingan.
Ibnul Jauzi, seorang salaf, pernah berpesan, “Sesungguhnya kuda pacu itu apabila sudah mendekati garis _finish,_ ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenangkan lomba. Maka jangan sampai Anda kalah cerdas dari kuda pacu. Sebab, sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Jika Anda belum sempat menyambut Ramadhan ini dengan baik, paling tidak Anda dapat melepasnya dengan baik.”
Amal seseorang itu sangat ditentukan oleh penutupnya. Boleh jadi di awal Ramadhan ibadahnya biasa-biasa saja, tapi menjelang di akhirnya, dia bersungguh-sungguh untuk meraih keistimewaan Ramadhan, maka dialah pemenangnya. Rasulullah SAW. bersabda, ”Sesungguhnya setiap amalan itu tergantung pada penutupnya.”
(HR. Bukhari).
Sekali lagi, ketika kita belum bisa menyambutnya dengan baik, masih terbuka kesempatan untuk melepasnya dengan baik. Ramadhan masih menyisakan beberapa hari lagi. Kerahkan seluruh waktu, pikiran, dan tenaga untuk meraih sebanyak mungkin keistimewaannya ketika mendekati garis _finish._ Sampaikanlah ucapan perpisahan Antum kepada Ramadhan dengan amalan terbaik, yang kelak akan bersaksi di sisi Dzat Yang Maha Mengetahui.
Di penghujung Ramadhan ini, sebagaimana kuda pacu, kita harus lebih bersungguh-sungguh lagi meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah. Yang sudah berlalu, kita perbaiki, yang tersisa kita maksimalkan kualitasnya. Kualitas puasa, shalat, membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an. Kualitas sedekah, infaq, dan jariyah. Kualitas shilaturahmi dan saling bertaushiyah. Kualitas menghidupkan malam-malam terakhirnya. Dan ditutup dengan zakat fithrah, sebagai pensucian jiwa dan penyempurna ibadah Ramadhan kita, sebelum ber'idul fithri. (QS. 2:185).
Seorang ulama salaf, Ibnu Rajab, penah berpesan, “Sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa darinya kecuali sedikit. Maka barang siapa telah mengisinya dengan baik, hendaklah ia menyempurnakannya. Dan barang siapa maksimal mengisinya dengan baik, hendaklah ia mengakhirinya dengan amal-amal terbaik.”
Boleh jadi, di penghujung Ramadhan ini, banyak tantangan kita. Mulai dari rasa lelah setelah menjalani puasa dan taraweh, kesibukan menghadapi lebaran, atau persiapan pulang kampung, tapi jangan sampai mengalihkan perhatian ibadah kita. Inilah saatnya kita harus sungguh-sungguh beribadah. Jangan biarkan kesibukan _duniawi_ mengalihkan fokus kita dari amalan _ukhrawi,_ yang seharusnya kita maksimalkan.
(QS. 63:9).
Ibnu Al-Jauzi menuturkan kisah menarik yang menunjukkan betapa seriusnya persiapan para salafush shaleh dalam menghadapi sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Mereka bukan saja menyiapkan diri dengan berbagai ibadah dan kebersihan batinnya, tapi juga persiapan fisik dengan wewangian dan baju terbaiknya.
Amalan mereka di penghujung Ramadhan seperti berikut ini. _Pertama,_ mandi dan memakai wewangian. _Kedua,_ memakai baju terbaik yang mereka miliki. _Ketiga,_ mengkhatamkan Al-Qur’an berkali-kali. Bahkan, Imam Syafi’i selama Ramadhan bisa khatam sampai 30 kali. _Keempat,_ mereka melakukan i’tikaf di masjid-masjid. _Kelima,_ bahkan di antara mereka ada yang mengenakan kain kafannya. Mereka benar-benar sudah siap menyambut kematian pada sepuluh akhir bulan Ramadhan dengan simbol memakai pakaian dari kain kafan.
Mengapa semua itu mereka lakukan? Karena ada sebuah garansi yang dijanjikan Rasulullah SAW., “Barangsiapa yang menghidupkan malam qadar dengan shalat malam atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Perhatikan sebuah do’a yang sangat menyentuh, dipanjatkan Abu Bakar Shiddiq, “Ya Allah, jadikan usia terbaikku ada di penghujungnya, amal terbaikku ada di penutupnya, dan hari terbaikku, ketika aku bertemu dengan-Mu.”
Juga nasehat indah dari Bisyr Al-Hafi, “Jangan menjadi seburuk-buruk kaum. Mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan saja.”
Karenanya, jangan _futur_ atau bermalas-malasan, kerahkan puncak totalitas _(Top of totality)_ ibadah kita sampai detik-detik terakhir di bulan mulia ini.
Simpulan
Kerahkan puncak totalitas ibadah kita dari hari-hari yang tersisa, dengan memanfaatkan apa yang masih tersisa. Karena kita tidak tahu kapan rahmat Allah menghampiri kita.
_Wallahu A’lam …_
Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 24 Ramadhan 1447 H./13 Maret 2026 M. Pukul 05.20 WIB.
#sekolahislamterbaik
#smartscbool
- Humas SMP Islam PB Soedirman 2 Bekasi