A RECOMMENDED ACTION

Article Image

Bismillaah,

            A RECOMMENDED ACTION 

Ramadhan menjadi waktu yang ditunggu-tunggu oleh setiap Muslim di dunia. Kehadirannya menjadi sebuah puncak ekspektasi yang tak tergantikan oleh apapun.

Setiap Muslim berharap ingin berjumpa dengan Ramadhan. Ingin berpuasa, tarawih, tadarus di dalamnya. Ingin berumrah, banyak istighfar, dan banyak shilaturahmi di bulan mulia ini. Ada yang ingin merubah kebiasaan buruknya, dan ingin lebih produktif lagi.

Bahkan ada yang ingin diwafatkan di bulan ini. Intinya, di bulan yang ditunggu-tunggu ini, mereka ingin all out beribadah atas dasar iman (imanan) dan mengharap pahala (ihtisaban). Tapi, ada satu amalan yang paling dahsyat balasannya apabila dikerjakan, terutama di bulan Ramadhan, yaitu sedekah. 

Apa filosofi sedekah itu?. Sedekah itu meneladani sifat Allah Yang Maha Memberi. Maka, siapa yang bersedekah, sungguh dia sedang meneladani sifat Allah. Allah itu memberi rejeki kepada siapa saja. Yang iman diberi, yang kafir diberi. Yang taat diberi, yang maksiat diberi. Yang pandai diberi, yang bodoh diberi. Yang rajin diberi, yang malas pun diberi. Yang di atas bumi diberi rejeki, yang di bawah bumi diberi rejeki, dan yang di langit pun diberi rejeki. Semua diberi rejeki tanpa terkecuali. (QS. 11:6).

Alkisah, ada seorang laki-laki ingin bersedekah secara diam-diam, agar tidak terlihat orang. Di malam hari dia keluar rumah untuk menyampaikan sedekahnya. Ternyata sedekah itu diberikan kepada seorang pencuri. Dia menyesal, "Ya Allah, segala kebaikan hanya milik-Mu, sedekahku jatuh di tangan pencuri. Aku akan bersedekah kembali.”

Di malam kedua, sedekahnya jatuh di tangan seorang pezina. Dia menyesal lagi dan mengadu lagi, "Ya Allah bagi-Mu segala puji, ternyata sedekahku jatuh kepada wanita pezina. Aku akan bersedekah kembali." Dan di malam ketiga, sedekahnya jatuh di tangan orang kaya. Dia tambah menyesal, sambil berdo’a, "Ya Allah bagi-Mu segala puji. Sedekahku jatuh kepada pencuri, pezina, dan orang kaya.”

Meski salah sasaran, pahala sedekah laki-laki itu telah diterima Allah. Ada hikmah besar atas sedekah yang dianggap salah sasaran itu. Ternyata dengan sedekah itu, si pencuri sadar akan kesalahannya, lalu bertaubat. Si wanita pezina, dengan sedekah itu, dia menjaga dirinya dari zina, kemudian bertaubat. Dan kepada si orang kaya, semoga dia menjadi tidak bakhil lagi, dan rajin sedekah.

Kemudian, kisah Abdurrahman bin ‘Auf, sahabat Nabi yang miliader, tapi kekayaannnya membuat dia hidup gelisah. Dia akan memborong semua kurma busuk di pasar Madinah dengan harga tinggi. Dia ingin hartanya habis, dan segera menjadi orang miskin. Karena dia tahu, hartanya yang melimpah itu, menjadi hisabnya panjang di akhirat.   

Sesampai di rumahnya, tiba-tiba datang seorang laki-laki berkulit hitam ingin memborong semua kurma busuknya dan berkata, “Wahai Abdurrahman bin ‘Auf, aku datang dari negeri yang jauh. Di daerah kami sedang terjadi wabah. Banyak orang jatuh sakit. Para tabib kami mengatakan, wabah itu hanya bisa disembuhkan dengan kurma yang sudah busuk. Jika Anda berkenan, kami ingin membelinya untuk menyelamatkan kaum kami.”

Hati Abdurrahman bin ‘Auf bergetar. Dia ingin hartanya habis, malah menghadirkan jalan manfaat. Katanya, “Ambillah semua kurma itu.” Kurma busuk itu pun dibeli dengan harga yang lebih tinggi. Abdurrahman bin ‘Auf menunduk. Air matanya jatuh, sambil berbisik, “Ya Allah, aku ingin miskin karena-Mu, tapi Engkau menjadikannya sebab kebaikan bagi orang lain.” Ternyata, Allah tidak ingin dia miskin, Allah ingin dia bermanfaat.

Sejak itu, Abdurrahman bin ‘Auf tak lagi bersusah payah ‘menghabiskan’ hartanya untuk menjadi miskin. Tapi memilih jalan paling berat, namun mulia. Dia menjaga hati tetap miskin di hadapan Allah, meski tangannya kaya (QS. 34:39).

Dari dua kisah di atas, hanya ada satu kesimpulan, ‘dahsyatnya sedekah itu.’ Mereka ingin menjauh dari dunia, namun Allah justru memberi dunia itu kembali. Bukan untuk dinikmati semaunya, melainkan agar menjadi jalan kebaikan.

Mengapa sedekah mereka menjadi sangat dahsyat dampaknya? Karena, harta datang, mereka sedekahkan. Keuntungan tiba, mereka bagikan. Dunia mendekat, mereka lepaskan dari hatinya. Karena mereka tahu, bila Allah berkehendak, harta bisa menjadi washilah menuju surga. Bahkan kurma-kurma yang busuk pun bisa menjadi obat.

Sebuah peringatan keras dari Rasulullah SAW., ”Janganlah engkau menyimpan harta (tanpa mensedekahkannya). Jika tidak, maka Allah akan menahan rejeki untukmu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain ditegaskan, bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim).

Sedekah di bulan Ramadhan, menjadi waktu yang sangat ditunggu-tunggu, karena dahsyatnya balasan Allah. Sebuah amalan yang sangat dianjurkan (A recommended action).

Simpulan

Tidak pernah ada orang jatuh miskin karena rajin sedekah. Bahkan, ia membuka banyak pintu keberkahan di luar nalar matematika manusia.
Wallahu A’lam …

Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 17 Ramadhan 1447 H./6 Maret 2026 M. Pukul 05.20 WIB.

#smartschool
#sekolahislamterbaik

Tim Humas SMP ISlam PB Soedirman 2 Bekasi