Bismillaah,
A DEFENSIVE FORTRESS
Puasa (shaum) adalah ibadah yang istimewa, karena memiliki banyak keutamaan. Di antara keistimewaannya, yaitu puasa merupakan perisai diri bagi setiap Muslim.
Makna perisai, benteng, atau tameng sebagai tempat berlindung atau bertahan dari serangan musuh dan sebagai pertahanan serangan dari luar. Seperti sabda Rasulullah SAW., “Puasa adalah perisai.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Puasa sebagai perisai, maksudnya puasa akan melindungi pelakunya di dunia dan di akhirat. Pertama, di dunia, menjadi pelindung dari godaan syahwat yang menghinakan. “Puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah, ‘Aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kedua, di akhirat, akan melindungi pelakunya dari api neraka pada hari kiamat. “Tidaklah seorang hamba yang berpuasa di jalan Allah, kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Minimal ada tiga benteng perlindugan dari puasa. Seperti dijelaskan berikut.
Pertama, Kekuatan Fisik.
Puasa membentuk benteng kekuatan fisik manusia melalui ketahanan dari penyakit dan dari lemah mental. Dengan berpuasa, sistem tubuh beradaptasi untuk membakar bahan makanan yang tersisa dan menggunakan energi cadangan dalam tubuh. Sehingga memberikan kekuatan fisik luar biasa untuk menghadapi berbagai cobaan dan kondisi ekstrim.
Hal ini pernah dialami oleh Rasulullah SAW. dan para sahabatnya dalam perang Badar Kubra, di bulan Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah. Juga pada perang Ain Jalut di bulan Ramadhan 658 Hijriyah, berhadapan dengan tentara Mongol. Kedua peperangan itu membuahkan hasil kemenangan gemilang.
Kedua, Kekuatan Ruhani.
Puasa adalah membangun benteng kedekatan dengan Allah SWT. secara hakiki. Bagi orang beriman, puasa merupakan bentuk kedekatan diri dengan Allah, sehingga menumbuhkan etos kemandirian (tidak bergantung pada makhluk), dan pengawasan (muraqabah) dari Allah SWT.
Kedekatan dengan Allah membangun kekuatan ruhani seorang mukmin yang sangat kuat. Sehingga seorang mukmin menjalani setiap episode kehidupannya dengan penuh opimisme karena merasa kebersamaanya dengan Allah.
(QS. 2:186).
Ketiga, Kekuatan Sosial
Spirit puasa mengajarkan benteng kekuatan sosial bagi setiap Muslim. Rasa haus dan lapar menumbuhkan semangat kolektif umat, bersama-sama merasa sebagai umat yang lemah, kemudian saling bekerjasama dan membantu yang lain untuk menumbuhkan kekuatan sosial yang solid.
Tak dapat dipungkiri, bahwa puasa adalah satu-satunya ibadah dalam Islam yang sangat rahasia dan bersifat personal. Berbeda dengan syahadat, shalat, zakat, atau haji, gerakan dan rekam jejak pelakunya dapat dilihat oleh orang lain di mana dan kapanpun. Tapi, puasa hanya bisa diketahui oleh pelakunya dan Zat Yang Maha Mengetahui (Allah) saja.
Dari puasa sebagai perisai diri dan ibadah yang sangat rahasia, terpancarlah nilai-nilai kesadaran dan pengakuan yang sangat mendalam dampaknya. Seperti berikut ini.
Pertama, Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, menjadi perisai kita untuk tetap membaca, mengimani, mentadabburi, mengamalkan, dan menda’wahkannya. Kedua, Ramadhan adalah bulan jihad, menjadi perisai kita untuk bersugguh-sungguh setiap beraktivitas dalam keseharian. Ketiga, Ramadhan adalah bulan berbagi, menjadi perisai kita untuk peduli dan empati kepada siapa saja yang hidupnya kurang beruntung (QS. 57:11).
Keempat, Ramadhan adalah bulan kesabaran, menjadi perisai kita untuk melatih kesabaran dalam meniti jalan dan menggapai ridha-Nya. Kelima, Ramadhan adalah bulan pengampunan, menjadi perisai kita untuk tetap optimis mengharap ampunan-Nya, menyesali dosa, dan tidak mengulanginya lagi. Keenam, Ramadhan adalah bulan pendidikan, menjadi perisai kita untuk siap dididik oleh Allah menjadi orang-orang yang bertakwa (QS. 2:183).
Ketujuh, Ramadhan adalah bulan ibadah, menjadi perisai kita untuk menjadikan setiap aktivitas kita bernilai ibadah. Kedelapan, Ramadhan adalah bulan penuh kesederhanaan, menjadi perisai kita bahwa dalam kondisi luang atau berpunya, kita harus tetap bersahaja, tidak mengikuti langkah-langkah syetan yang suka pemborosan. (QS. 17:27).
Puasa benar-benar menjadi sebuah perisai pertahanan diri (A defensive fortress) bagi setiap Muslim, di mana dan kapanpun.
Simpulan
Puasa (shaum) adalah ibadah yang penuh rahasia, menyimpan banyak keistimewaan, salah satunya menjadi perisai diri dari godaan syahwat dunia, dan pedihnya api neraka.
Wallahu A’lam …
Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 10 Ramadhan 1447 H. / 27 Febuari 2026 M. Pukul 05.15 WIB.
#sekolahislamterbaik
#smartschool