Bismillaah,
UNREPEATABLE CHANCE
Meski masih dalam hitungan lima hari lagi akan tiba, namun asmosfir spiritual terasa asyik menyeruak ke dalam relung jiwa setiap Muslim yang beriman dan penuh harap.
Inilah bulan sultan bagi sebelas bulan lainnya. Sungguh beruntung sekali, ketika kita masih diizinkan menemuinya kembali tahun ini. Ramadhan akan muncul di cakrawala dengan detik-detiknya yang sejuk, hangat dan penuh semangat.
Mengapa harus beruntung? Karena tidak semua orang bergembira ketika dipertemukannya. Siapapun yang bergembira ketika dipertemukannya, itulah ekspresi iman yang hidup, tanda hati yang peka, dan bukti kecintaan seorang hamba terhadap musim ketaatan yang Allah bentangkan.
Tentang kegembiraan seorang hamba Allah, dilukiskan berikut ini, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. 10: 58).
“Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan,” menunjukkan bahwa iman, Islam, Al-Qur’an, As-Sunnah, serta peluang untuk beribadah jauh lebih bernilai daripada seluruh harta dunia yang dikumpulkan manusia. Harta pasti ditinggalkan, sedangkan iman dan amal saleh menjadi bekal yang akan menyertai seorang hamba menuju akhirat.
Mengapa harus gembira? Pantas sekali kita bergembira. Berapa banyak saudara kita yang pada Ramadan lalu, masih ifthar bersama, shalat tarawih bersama, bertakbiran bersama. Tapi kini, mereka sudah tidak ada lagi di tengah-tengah kita. Maka, siapa yang bisa menjamin masih diberi kesempatan berjumpa dengan Ramadhan tahun ini?
Para ulama kontemporer menegaskan, bahwa tidak ada amalan khusus yang disyariatkan Allah untuk menyambut Ramadhan, selain menyambutnya dengan rasa gembira, syukur, dan bahagia kepada Allah. Sebab dipertemukan dengan Ramadhan adalah nikmat paling besar.
Terbayangkah, Ramadan menjadi hari-hari paling mencerahkan, paling jujur, paling tulus, dan paling nikmat sepanjang tahun. Pasar-pasar, jalanan, dan majelis-majelis kebaikan menjelma bak alam baka. Setiap jiwa tersentak haru dengan kesyahduan tilawah Al-Qur’an. Bahkan, masjid dan mushalla menyeruakkan tetesan air mata lewat munajat yang setia pada Zat Rabbul ‘Izzati.
Kondisi generasi Salafus Shaleh menyambut Ramadhan dengan kesungguhan yang luar biasa. Mereka penuhi hari-hari Ramadhan dengan shalat, puasa, membaca Al-Qur’an, do’a, sedekah, dan berbagai bentuk ketaatan lainnya. Ramadhan bagi mereka adalah musim semi iman, masa panen amal, dan bazar besar kebaikan. Tidak ada bulan yang lebih bermakna bagi mereka selain Ramadhan.
Bagaimana kondisi kita saat ini? Kadang sebagian kita, Ramadhan justru lebih identik dengan kesibukan mengurus makanan, hiburan, dan berbagai kesenangan duniawi. Waktu yang seharusnya digunakan untuk ibadah sering tersita oleh hal-hal yang kurang bernilai. Kegembiraan para Salafus Shaleh lahir dari peluang memperbanyak ibadah, sedangkan kegembiraan kita sering bercampur dengan urusan dunia.
Jika Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terakhir dalam hidup kita, bagaimana kita menyiapkannya kali ini? Berapa kebaikan yang akan kita kumpulkan? Pastinya kita akan sungguh-sungguh mengisi siang dan malamnya dengan banyak ibadah. Banyak amal kebaikan yang kita lakukan, meski dengan pengorbanan materi, energi, pikiran, dan waktu yang tak sedikit.
Kata Hasan Al-Bashri, dunia itu hanya tentang tiga hari. Kemarin, tak bisa diulang. Besok, belum tentu kita temui. Dan hari ini, tempat kita menabung amal kebaikan. Menjelang Ramadhan tiba, kita luruskan niat dan tujuan kita. Karena Ramadhan bukan hanya menanti kehadirannya, tapi lebih bagaimana kita menyiapkan diri yang lebih baik.
Memang, kita harus lebih baik menyiapkan Ramadhan kali ini, mulai dari shalat wajib dan sunnah, puasa, qiyamul lail, tilawah, tadabbur ayat-ayat Allah, mengkhatamkan Al-Qur’an, sedekah, berbagi ta’jil, shilaturahmi, sampai do’a dan munajat.
Dengan kesempatan ini, jangan biarkan Ramadhan kali ini berlalu tanpa meraih berkah, ampunan, dan rahmat Allah. Karena, kesempatan ini tak akan terulang lagi (Unrepeatable chance).
Simpulan
Untuk Ramadhan kita lebih bermakna, jadikanlah ini yang terakhir kali. Dengannya, kita tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang paling istimewa ini.
Wallahul Musta’an …
Oleh : Nur Alam, Cimande Hills, Jum’at Penuh Berkah, 25 Sya’ban 1447 H./13 Febuari 2026 M. Pukul 05.15 WIB.
#smartschool
#sekolahislamterbaik
Tim Humas