INSPIRATIONAL STORY

Article Image

Bismillaah,

               INSPIRATIONAL STORY

Banyak kisah inspiratif (Inspirational story) di sekitar kita, yang bisa menjadi motivasi dan support untuk memperbaiki diri menjadi yang lebih baik dari sebelumnya.

Namun sayang, seringkali kita abai. Padahal, di dalam setiap kisah yang inspiratif, terdapat pelajaran yang sangat berharga. “Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. 7:176).

Kurang dari dua pekan lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan 1447 H. Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi bulan mulia tersebut juga menjadi saksi perjalanan spiritual dari tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam, yang bisa dijadikan momentum penyempurnaan iman dan amal kita.

Untuk melazimkan diri pada kebaikan, sangat diperlukan inspirasi dari kisah-kisah yang layak untuk kita teladani. Inilah sekelumit kisah orang-orang shaleh yang menjalani Ramadhan dengan penuh keberkahan dan keikhlasan.

Di antara para sahabat, Abdullah bin Umar RA., termasuk yang kaya raya. Mengenai kedermawanannya, disebutkan bahwa “Suatu hari di bulan Ramadhan, beliau mendapat kiriman harta senilai empat ribu keping dirham.” Uang dalam jumlah besar itu tidak semalam pun harta tersebut ‘menginap’ di rumahnya, karena langsung habis dibagikan kepada fakir miskin dan kaum dhu’afa di sekitarnya. 

Teladan lain, seorang Tabi’in, Qatadah As-Sadusi. Kedua matanya meski buta, ahli hadis dari Kota Basrah ini tidak patah semangat. Di luar Ramadhan, beliau rutin mengkhatamkan Al-Qur’an sepekan sekali. Selama Ramadhan, durasi khatamnya lebih pendek, yakni tiga hari sekali. Bahkan, ketika 10 hari terakhir Ramadhan, sehari sekali ditamatkannya bacaan Al-Qur’an.

Di sisi lain, ada Ibnu Syihab Az-Zuhri. Seorang ‘alim terbesar di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada hari-hari biasa, kesibukannya terpusat di masjid dan majelis-majelis ilmu. Di sepanjang Ramadhan, ditinggalkan semua kegiatan itu, beliau hanya total berkonsentrasi calam membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. 

Demikian juga Imam Syafi’i RA. Rutinitas yang dijalaninya tidak lepas dari mengajar, menulis, dan ibadah mahdhah. Ar-Rabi pernah mengatakan, “Imam Syafii selalu membagi waktu malamnya menjadi tiga bagian. Sepertiga pertama digunakannya untuk menulis. Sepertiga yang kedua dipakainya untuk shalat. Dan yang terakhir untuk tidur.”

Begitu memasuki bulan Ramadhan, kesehariannya lebih tercurah pada Al-Qur’an. Selama bulan Ramadhan, beliau biasa menamatkan bacaan A-Qur’annya. Bahkan, khatamnya sampai 60 kali selama Ramadhan. Caranya dengan mengkhatamkan satu kali di siang hari, kemudian sekali lagi di malam hari. Tidur beliau hanya sedikit, di sela-sela waktu senggangnya saja. 

Selanjutnya, inspirasi dari Ali bin Abi Thalib. Disebutkan, bahwa beliau sering berbuka  dan makan sahur hanya dengan sepotong roti kering, garam, atau susu, meski beliau sudah menjabat sebagai khalifah. Ketika ditanya, mengapa tidak memperbaiki gizi makanannya. Beliau menjawab, “Agar hati tidak disibukkan oleh kenikmatan dunia. Karena puasa untuk menundukkan hawa nafsu demi mencapai takwa.”

Puncak kemesraannya dengan Ramadhan tampak di akhir hayatnya. Beliau wafat pada 21 Ramadhan, setelah diserang ketika hendak menunaikan shalat Subuh di Masjid Kufah. Ucapan terakhirnya yang terkenal, “Demi Tuhan Ka‘bah, aku telah menang.” Ini menjadi ibrah, beliau sudah menutup perjalanan hidupnya penuh makna dan keikhlasan.

Di era digitalisasi yang serba cepat dan materialistis ini, beberapa kisah inspirasi Ramadhan di atas, sejatinya adalah ketika nafsu ditundukkan, dunia diperkecil, dan Allah dibesarkan. Dan berikut ini pesan inspiratif dalam menyambut Ramadhan 1447 H.
 
“Ramadhan datang bukan hanya sebagai bulan ibadah, tetapi sebagai kesempatan emas untuk menyembuhkan hati yang lelah, memperbaiki hubungan yang retak, dan mendekat kepada Allah dengan langkah yang lebih tenang dan penuh harap.”

“Ketika Ramadhan tiba, seakan Allah sedang memanggil kita dengan lembut, “Kembalilah kepada-Ku.” Maka sambutlah bulan ini dengan hati yang lapang, niat yang tulus, dan tekad untuk meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini mengikat.”

“Di bulan suci ini, setiap sujud terasa lebih dalam, setiap doa lebih tulus, dan setiap air mata lebih bermakna. Semoga Ramadhan menjadi jalan bagi kita untuk menemukan ketenangan hati yang selama ini gersang.”

Simpulan

Bercermin dari kisah orang-orang shaleh terdahulu dalam berinteraksi dengan Ramadhan, sejatinya menjadi inspirasi bermakna bagi setiap kita, dalam menyiapkan bekal terbaik untuk hari esok.     
Wallahul Musta’an …

Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 18 Sya’ban 1447 H./6 Febuari 2026 M. Pukul 05.15 WIB.

#smartschool
#sekolahislamterbaik