ANONYMOUS CHARITY

Article Image

Bismillaah,

             ANONYMOUS CHARITY

Karena derasnya arus informasi saat ini, hampir semua aktivitas manusia tak pernah lepas dari publikasi di berbagai media. Tujuannya untuk diketahui oleh publik atau netizen. 

Meski demikian, ada satu aktivitas manusia yang sering diabaikan, karena memang tidak terlihat, atau tidak dipublikasikan. Aktivitas tersebut sangat bermakna dan mulia di sisi Allah. Itulah sedekah atau berbagi dengan diam-diam (Anonymous charity).

Tersebut dalam firman Allah, “Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 2:271).

Menurut As-Sa’di, “Jika sedekah tersebut ditampakkan dengan niat untuk meraih wajah Allah, maka itu baik. Namun jika dilakukan secara sembunyi-sembunyi, maka itu lebih baik.” Ayat di atas menunjukkan, bahwa sedekah yang dilakukan sembunyi-sembunyi itu lebih utama daripada dilakukan secara terang-terangan.

Bahkan, murka Allah seberat dan sedahsyat apapun, dapat dipadamkan dengan bersedekah yang tidak pernah dipublikasikan. Seperti sabda beliau, “Sedekah yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan murka Allah.” 
(HR. Thabrani).

Begitulah Rasulullah SAW. mendidik kita dalam bersedekah. Agar pahalanya tidak hilang karena pujian manusia, terpelihara dari pamer, dan terjaga dari riya. Dan pelakunya dijamin mandapat naungan Allah, “Ada tujuh golongan yang dinaungi pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan Allah, yaitu seseorang yang bersedekah secara diam-diam.” 
(HR. Bukhari dan Muslim).

Beberapa nasehat mulia dari hamba-hamba Allah yang mulia, yang menyembunyikan pemberiannya. Ibnul Mubarak berpesan, “Jadilah orang yang suka mengasingkan diri, dan janganlah suka dengan popularitas.” Zubair bin Awwam mengatakan, “Barangsiapa yang mampu menyembunyikan amalan shalihnya, maka lakukanlah.”

Ibrahim An-Nakha’i menegaskan, “Kami tidak suka menampakkan amalan shalih yang seharusnya disembunyikan.” Abu Hazim berpesan, “Sembunyikanlah amalan kebaikanmu sebagaimana engkau menyembunyikan amalan kejelekanmu.” Fudhail bin ‘Iyadh,  mengingatkan, “Sebaik-baik ilmu dan amal adalah sesuatu yang tidak ditampakkan di hadapan manusia.” 

Juga Imam Syafi’i mensehati kita, “Sudah sepatutnya bagi seorang ‘alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.”

Di sisi lain, perintah sedekah sembunyi-sembunyi, sama halnya dengan perintah membaca Al-Qur’an dengan suara yang lirih. Sabda Rasulullah SAW., ”Orang yang mengeraskan bacaan Al-Qur’an sama halnya dengan orang yang terang-terangan dalam bersedekah. Orang yang melirihkan bacaan Al-Qur’an sama halnya dengan orang yang sembunyi-sembunyi dalam bersedekah.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Alih-alih mengeraskan suaranya, malah mereka menutupi mushafnya agar orang tidak tahu kalau mereka membaca Al-Qur’an. Seperti Ar-Rabi’ bin Khutsaim, ketika ada orang yang akan menemuinya, beliau sedang membaca Al-Qur’an, ia menutupi mushafnya dengan bajunya. Juga Ibrahim An-Nakha’i, segera menyembunyikan Al-Qur’annya, ketika ada yang akan menemuinya. Niatnya tidak lain, agar amal shalih mereka sepi dari publikasi manusia.

Bagamana praktek sedekah yang jauh dari publikasi riya atau pamer? Seperti memberi makan atau kebutuhan sehari-hari secara tersembunyi. Siapkan paket sembako atau bahan makanan lainnya. Simpan di depan rumahnya, panti asuhan, atau siapa saja yang membutuhkan. Biarkan, penerimanya tidak pernah tahu siapa pemberinya, kecuali Allah.

Atau bantu ringankan beban orang lain secara diam-diam. Seperti bantu melunasi hutang saudara, tetangga, atau teman yang kesulitan. Caranya, transfer sejumlah uang, tanpa mencantumkan nama atau alamat, atau titipkan via orang yang amanah. Niatkan untuk meringankan beban orang lain, tanpa harus disebutkan siapa pemberinya, juga tanpa mengharap publikasi pujian atau ucapan terima kasih.

Terakhir, menurut Imam Suyuthi, ada sepuluh perkara yang mengalirkan pahala bagi orang yang sudah wafat, yaitu “Ilmu yang disebarkan, anak yang shaleh, pohon kurma yang ditanam, sedekah diam-diam, mushaf yang diwariskan, menjaga perbatasan, membuat sumur, mengalirkan sungai, membangun rumah tinggal untuk musafir, dan membangun rumah ibadah.” 

Simpulan

Tidak perlu pubilkasi pujian atau apresiasi manusia. Dahsyatnya berbagi secara diam-diam. Untuk menjaga keikhlasan hati, terhindar dari riya, ‘ujub, sum’ah atau pamer. Sekaligus menenangkan hati pemberi dan penerimanya.  
Wallahul Musta’an …

Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 11 Sya’ban 1447 H./30 Januari 2026 M. Pukul 05.15 WIB.

#smartschool
#sekolahislamterbaik