_Bismillaah,_
WHAT WILL HAPPEN IN 2125
Setiap momen pergantian tahun, kita harus mau menoleh ke belakang, untuk _muhasabah,_ atau merefleksi berbagai peristiwa yang pernah melintas.
Sebaliknya, kita juga perlu menatap ke depan, sambil memprediksi berbagai peristiwa apa yang bakal terjadi nanti. Mungkin kita masih bisa menghirup udara kehidupan saat itu, atau mungkin dan pastinya, kita sudah tidak ada lagi di bumi ini.
Ketika kita telah tiada, apa yang terjadi? Mungkin tinggal tulisan nama kita di atas seonggok batu nisan, yang nampak pudar karena trik matahari atau guyuran air hujan. Kadang, sesekali masih dikunjungi oleh sahabat-sahabat yang masih mengingat kita.
Ketika kita telah berpulang, mungkin tempat tinggal yang dulu sering kita renovasi berulang kali, yang kita miliki dari hasil jerih payah, keringat, dan air mata, telah dimiliki orang lain. Atau mungkin sudah lenyap, berganti dengan bangunan kekinian, tanpa menyisakan cerita tentang kita sedikitpun.
Ketika kita telah kembali, harta yang dulu kita tumpuk-tumpuk berserakan di mana-mana, telah berpindah tangan. Jabatan yang dulu kita genggam erat-erat, tak terdengar lagi. Bahkan dokumentasi terindah yang kita simpan rapi di dalam album kenangan, sudah hilang tanpa kesan.
Ketika kita sudah pamitan, sosok dan tampilan kita yang mungkin tampan atau anggun, tak seorangpun ada yang mengenalinya lagi. Tak ada yang pernah tahu, kita pernah sukses. Tak ada yang mau tahu, kita pernah jatuh bangun berjuang di garis terdepan. Dan pastinya, yang tersisa hanya amal shaleh, legacy kebaikan yang tersembunyi, atau air mata penyesalan atas dosa dan maksiat masa lalu.
Ketika kita sudah diwafatkan, bukan lagi bumi yang kita pijak hari ini, mungkin surga penuh kenikmatan yang kita sedang nikmati. Atau mungkin kita masih tinggal di alam barzakh, sambil menunggu kiamat tiba. Ada pesan indah dari Rasulullah SAW., “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan hidup, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi).
Ketika kita sudah dikumpulkan, “Semua orang berlari dari saudaranya, dari ibu bapaknya, dari isteri dan anak-anaknya. Setiap orang pada hari itu sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada wajah-wajah yang berseri, ada wajah-wajah yang penuh debu, karena penyesalannya yang mendalam. Mereka itulah orang-orang kafir dan para pendurhaka.” (QS. 80:34-42).
Sekarang, coba bayangkan 100 tahun ke depan. Bekal terbaik apa yang sudah kita persiapkan?. Apakah shalat yang paling khusyu’ yang ditegakkan? Apakah infaq dan sedekah terbaik yang selalu disembunyikan pemberiannya? Apakah ketaatan yang tulus yang di-istiqamah-kan? Apakah ilmu bermanfaat yang dijariyahkan? Atau harta dan jiwa di jalan Allah yang ditransaksikan?
Bayangkan satu abad ke depan. Mulai detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, tahun, dasawarsa, dan seterusnya berlalu begitu cepat. Sementara ajal semakin dekat. Tulislah lembaran hidup yang dipenuhi dengan taubat yang jujur, amal yang tulus, dan _istiqamah_ yang lurus di jalan Allah, yang tak pernah terputus.
Firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. 59:18).
Pernah Rasulullah SAW. ditanya, “Siapakah orang mukmin yang paling cerdas?" Maka dijawab, "Mereka adalah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Itulah orang-orang yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah).
Sebuah nasehat inspiratif dari Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah, “Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian. Karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat. Sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya”.
Tidak salah kita menoleh ke belakang untuk muhasabah diri. Sebagaimana juga tidak salah kita menatap ke depan untuk 100 tahun lagi, sambil melihat peristiwa-peristiwa apa yang bakal terjadi _(What will happen in 2125)._
Simpulan
Meski kita sudah tidak hidup lagi, atau mungkin tidak mengalami 100 tahun ke depan, komitmen sebagai seorang Muslim, bukan urusan dunia ditinggalkan, tapi jangan sampai urusan akhirat dilupakan.
_Wallahu A’alm …_
Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 27 Rajab 1447 H./16 Januari 2026 M. Pukul 05.10 WIB.