Bismillaah,
MINDSET OF STOICISM
Di era digital ini, teknologi informasi telah mengubah hampir semua aspek kehidupan manusia. Mulai dari cara berinteraksi, belajar, bekerja, sampai beribadah.
Fenomena tersebut bisa menjadi tantangan sekaligus peluang. Tantangannya, seperti disinformasi, budaya instan, dan krisis identitas. Dan peluangnya, kita harus siapkan generasi yang cerdas teknologi, tapi tidak miskin spiritual.
Di sisi lain, kekinian muncul sebuah faham yang menjadi gaya hidup (life style), terutama di kalangan Gen-Z, dengan tag line-nya, ‘menerima hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan dan fokus pada apa yang bisa kita kendalikan.’ Faham ini kemudian disebut dengan cara berpikir stoikisme (Mindset of stoicism).
Stoikisme sangat berfokus pada emosi manusia. Jadi inti ajaran filsafat ini adalah mengenai pengendalian emosi negatif, yang menurut mereka menjadi sumber ketidakbahagiaan seseorang dalam hidupnya.
Untuk itu, hidup harus harmonis dengan alam, dan menyesuaikan diri dengan kodratnya sebagai manusia, yaitu dengan memiliki akal. Hal ini sangat ditekankan, karena manusia harus selalu rasional atau menggunakan akalnya. Jika tidak, bisa disamakan dengan binatang.
Menurut stoikisme, bahwa kebahagiaan bukan ketika seseorang mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi ketika dia memiliki kemampuan untuk tidak menginginkan, sampai pada titik merasa cukup. Dan masih menurutnya, bahwa kebahagiaan itu berasal dari dalam diri, bukan dari luar diri.
Sekilas faham ini memiliki kesamaan dengan ajaran Islam dalam hal kontrol diri, penerimaan takdir, fokus pada apa yang bisa dikendalikan. Meski demikian, keduanya berbeda. Bahagia dalam stoikisme berlandaskan pada akal (logos), sedangkan Islam berlandaskan pada wahyu Ilahi.
Dalam hal pengendalian emosi, Islam menegaskan dahsyatnya dampak destruktif dari emosi negatif, dengan memberikan solusinya, ”Janganlah kamu marah, maka bagimu surga.”
(HR. Abu Dawud).
Kemudian, pentingnya sikap menerima takdir dan merasa cukup, Islam memberikan solusi dengan sikap syukur, sabar, qana’ah dan tawakkal. Juga mengenai kebahagiaan yang berasal dalam diri, dijelaskan bahwa, ”Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Faham stoikisme identik dengan perintah hidup zuhud dalam Islam. Zuhud adalah kestabilan menjalani hidup. Seorang zahid (orang yang menjalani hidup zuhud) tidak akan goyah dengan gemerlap dunia. Dia boleh memiliki banyak harta, tapi tidak disibukkan dengannya. Dan ketika kehilangan pun semua hartanya, tidak akan terpuruk dalam kesedihan berlarut.
Tidak ada yang dicari oleh orang yang berzuhud, melainkan ridha Allah, dengan menjalani aktivitas dunia dan akhiratnya secara berimbang. Seperti firman Allah, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagiamu dari (kenikmatan) duniawi.” (QS. 28:77).
Islam mengajarkan keseimbangan dalam hidup. Maka, zuhud bukan berarti memiskinkan diri atau meninggalkan tanggung jawab duniawi. Zuhud adalah perjalanan hati menuju Allah. Oleh karena itu, zuhud bukan berarti menafikan dunia, tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.
Dari Sahl bin Sa’ad, Rasulullah SAW. bersabda, ”Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).
Bagaimana cara zuhud itu di era salaf, klasik, dan kekinian? Salaf, fokus pada hati yang tidak bergantung pada manusia dan dunia. Klasik, fokus pada penguatan spiritualitas yang mendekatkan hati kepada Allah. Dan kekinian, fokus pada interaksi dengan dunia, tapi tanpa menjadi hamba dunia. Demikian, stoikisme dalam perspektif Islam.
Terakhir, bolehkah seorang Muslim mengamalkan stoikisme? Prinsipnya, apapun yang datang dari luar Islam, cukup untuk menguatkan pemahaman keislaman kita saja, selama itu tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Simpulan,
Islam harus dijadikan satu-satunya solusi dalam kehidupan seorang Muslim. Karena Islam sangat sempurna dan universal (syamilun wa mutakamilun), serta sesuai dengan kondisi waktu dan tempat (shalihun liz zaman wal makan).
Wallahu A’lam …
Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 1 Jumadil Akhir 1447 H./21 Nopember 2025 M. Pukul 05.00 WIB.
#sekolahislamterbaik
#smartschool