MINDFUL LIFE

Article Image

Bismillaah,

                        MINDFUL LIFE

Di era digital ini, setiap kita dihadapkan dengan derasnya arus informasi via media sosial. Dampaknya, kadang ada rasa cemas, stres, bahkan hilangnya semangat hidup.

Dampak berikutnya, adalah seseorang akan terjebak dengan rutinitas, tidak mau memaknai setiap momen yang sedang dijalani saat ini. Lebih mengkhawatirkan masa lalu, mencemaskan masa depan, dan permisif dengan apa yang sedang terjadi saat ini.

Mengapa hal ini terjadi? Karena mereka tidak mau menghadirkan Allah dalam setiap nafas, langkah, pikiran, ucapan, dan perbuatan dalam hidupnya. “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” 
(QS. 13:28).

Ibnul Qayyim pernah berkata, “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini.” Ada yang bertanya, “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?” Maka dijawab, “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.”

Mindful life, sebuah praktek spiritual, yang tujuannnya untuk mencapai hidup yang lebih sadar, menghargai setiap momen, dan merasakan kehadiran Allah SWT. setiap saat. Bisa lewat zikir (mengingat), tafakkur (merenungkan), dan tadabbur (memahami secara mendalam), agar hati selalu terhubung dengan sumber segala ketenangan hidup, Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Konsep mindful life, atau kesadaran penuh dalam hidup, seringkali dimaknai sebagai kemampuan untuk fokus pada momen sekarang tanpa menghakimi. Dalam konteks Islam, bermakna hidup dengan kesadaran bahwa Allah SWT. senantiasa mengawasi kita, dan bahwa setiap detik hidup kita adalah peluang dan kesempatan untuk beribadah kepada-Nya. (QS. 51:56).

Konsep ini juga disebut sebagai ‘muraqabah,’ yaitu perasaan selalu diawasi oleh Allah, baik dalam berpikir, bernarasi, atau bertindak. Ketika setiap kita menyadari akan kehadiran Allah di mana dan kapan saja kita berada, maka hati menjadi tenang. “Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. 57:4).

Di dunia pendidikan, dikenal dengan istilah pendekatan Mindful Learning. Filosofinya adalah setiap murid harus memiliki kesadaran penuh terhadap apa yang sedang dilakukan, dirasakan, dan dipikirkan tanpa gangguan dari masa lalu atau kekhawatiran tentang masa depan. Dan guru-gurunya harus menghadirkan suasana belajar yang bermakna (meaningful) dan menyenangkan (joyful) untuk murid-muridnya di sekolah.

Dan saat ini, setiap guru sedang sibuk dengan pendekatan tersebut, lewat berbagai pelatihan intensif yang diikuti. Alih-alih mendapatkan respect dari murid dan masyarakat, malahan lagi viral, banyak sekali kriminalisasi yang menghadang langkah mereka dalam menjalankan tupoksinya.  

Di sisi lain, Rasulullah SAW. menjadi teladan kita dalam hal ini, dengan melakukan zikir, muhasabah, refleksi diri, dan shalat yang khusyu.’ Dalam keseharianya, beliau selalu mengingat Allah, merasa diawasi Allah, baik dalam kondisi mudah atau sulit.  “Orang-orang yang mengingat Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata, akan mendapatkan naungan di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Seorang pengamat politik dan pertahanan, Prof. Salim Said, di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, pernah berkata, “Indonesia tidak bisa menjadi negara maju, selama Tuhan tak lagi ditakuti.” Lebih lanjut, “Jadi, negeri ini tidak bisa maju. Jangankan KPK, Tuhan saja tidak ditakuti,” ucap beliau.  

Ketika kita mau bercermin dengan kondisi negeri kita saat ini, yang penuh dengan keculasan, kemunafikan, kezhaliman, dan keserakahan para pemimpinnya, pertanyaannya mengapa semua ini terjadi? Tidak lain, karena mereka tidak sadar (mindful) akan kehadiran Zat Yang Maha Mengawasi.

Muraqabatullah (sadar merasakan pengawasan Allah), adalah kedudukan yang sangat tinggi dan mulia dalam Islam, sekaligus termasuk tahapan utama untuk menempuh perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah dan negeri akhirat.

Seorang penyair pernah berucap, “Jika suatu hari kamu sedang sendirian, maka janganlah kamu berkata, aku sendirian, tetapi katakanlah ada Allah Yang Maha Mengawasi-ku. Dan janganlah sekali-kali kamu menyangka, bahwa Dia akan lalai sesaatpun. Dan jangan pula mengira, sesuatu yang tersembunyi akan luput dari pengawasan-Nya.”

Simpulan

Mindful life bagi seorang Muslim, bukan hanya membawa kesejukan jiwa dan ketenangan hati, tetapi juga membuka jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna dan penuh berkah Allah. 
Fastabiqul khairat …

Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 16 Jumadil Awwal 1447 H./7 Nopember 2025 M. Pukul 05.00 WIB.

#smartschool
#sekolahislamterbaik