Bismillaah,
WHY SHOULD WE CARE?
Hidup nafsi nafsi menjadi salah satu ciri masyarakat moden saat ini. Setiap orang sibuk dengan akivitas hariannya, tanpa ambil peduli dengan kondisi orang lain.
Sehari semalam waktu yang diberikan Allah lebih banyak digunakan untuk mengejar karir, jabatan, atau passion-nya. Semua waktunya didominasi untuk urusan dunia. Hampir tak tersisa waktunya untuk untuk urusan akhirat.
Dari Zaid bin Tsabit, Rasulullah SAW., bersabda, “Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya.” (HR. Ahmad).
Rasulullah SAW. sangat mencela sikap orang-orang yang tamak kepada dunia. Bahkan, Allah SWT., sangat merendahkan kedudukan dunia, “Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. 3:185).
Di sisi lain, saking cintanya manusia kepada dunia, maka pikirannya tertutup, matanya buta, dan hatinya beku terhadap urusan saudaranya. Rasulullah SAW., mengingatkan, ”Siapa yang tidak ihtimam (peduli) terhadap urusan umat Islam, maka bukan golongan mereka.” (HR. Thabrani).
Ihtimam atau kepedulian menunjukkan kepekaan hati manusia, sehingga ketika melihat saudaranya menderita, terzhalimi dan sakit, maka dia akan merasakan apa yang dialami saudaranya. Dan sekuat tenaga memberikan bantuan yang bisa dilakukan.
Kepedulian tampaknya mudah diucapkan, tetapi sulit dikerjakan bagi orang yang sangat mencintai dunia. Tetapi sangat mudah bagi orang yang sangat mencinati akhirat. Dia akan banyak memberi, berkorban, dan peduli terhadap yang lain, meski dia juga butuh.
Bagaimana tingkatan ihtimam (kepedulian) itu dalam Islam? Tingkat terendahnya adalah husnudz dzan. Kisahnya, Rasulullah pernah bersabda, “Akan datang sekarang seorang dari penghuni surga.” Maka muncullah seorang dari Anshar, janggutnya basah bekas wudhu’ dan tangan kirinya menenteng sandal.
Padahal tidak ada tanda-tanda istimewa ibadahnya, tapi mengapa sahabat itu dijanjikan calon penghuni surga? Jawabannya, karena dia tidak pernah hasad dengan kebaikan yang diberikan Allah kepada orang lain.
Tingkat keduanya, mencintai kebaikan untuk saudaranya sebagaimana mencintai kebaikan untuk dirinya sendiri. Rasulullah SAW., bersabda, “Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga mencintai untuk saudaranya sebagaimana mencintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tingkat tertingginya adalah Itsar, atau mengutamakan saudaranya atas diri sendiri dalam masalah keduniaan. Seperti firman Allah, “Dan mereka tiada memiliki keinginan di dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (QS. 59:9).
Suatu ketika Nabi bertemu dengan seorang sahabat, yang nampak tangannya melepuh karena kerja keras. Nabi bertanya, “Mengapa tanganmu hitam, kasar dan melepuh?” Sahabat menjawab, “Tanganku seperti karena untuk mencari nafkah bagi keluargaku.” Nabi berkata, “Tangan ini yang dicintai Allah,” sambil mencium tangan yang hitam, kasar dan melepuh itu.
Dari kisah di atas, tengoklah jutaan tangan yang hitam dan melepuh menunggu uluran peduli kita. Kalau Nabi saja mau mencium tangan mereka, maukah kita menyisihkan sebagian rejeki yang kita peroleh sebagai bentuk peduli pada mereka? Why should we care? (Mengapa kita harus peduli?).
Kesimpulan
Semewah atau sesulit apapun hidup ini, ketika kita masih punya ihtimam (kepedulian) kepada sesama, maka ketika itu Allah menjauhkan kita dari keserkahan atau kekikiran.
Wallahu A’lam …
Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 14 Shafar 1447 H./8 Agustus 2025 M. Pukul 05.25 WIB.
#smartschool
#sekolahislamterbaik