HUMAN OF VALUE

Article Image

Bismillaah,

HUMAN OF VALUE

Hanya ada dua pilihan dalam hidup ini, mau menjadi manusia bernilai atau manusia sukses? Masing-masing kita pastinya punya pilihan dan jawaban yang berbeda.

Ketika pilihannya jatuh pada manusia bernilai, maka hidup sukses akan menyertainya. Sebaliknya, ketika pilihannya jatuh pada manusia sukses, maka hidup bernilai belum tentu menyertainya. 

Ibarat kita menanam bibit padi, pasti di sekelilingnya akan dipenuhi dengan tumbuhan rumput. Sebaliknya, ketika kita menanam rumput, pastinya kemungkinan kecil tumbuh tanaman padi di sekitarnya. 

Menjadi manusia bernilai (human of value), jauh lebih penting ketimbang menjadi manusia sukses (human of success) di hadapan Allah. Meski, kadang menjadi manusia sukses itu sangat didambakan dan disanjung banyak orang di dunia.

Kita sangat mafhum, kapan seekor binatang itu menjadi bernilai?. Gajah bernilai karena gadingnya, rusa bernilai karena tanduknya, dan burung bernilai karena keindahan kicauannya. Maka, ketika ada gajah tidak bergading lagi, rusa tidak bertanduk lagi, dan burung tidak berkicau lagi, pastinya binatang-binatang tersebut sudah tidak bernilai lagi. 

Bagaiamana dengan manusia? Manusia menjadi bernilai karena akhlak yang dimilikinya. Sehingga, ketika seseorang telah kehilangan akhlak, maka hilang pula lah nilai dan harganya, baik di mata manusia, terlebih di hadapan Allah.

Seorang Penyair Arab, Syauqi Bey, pernah berpesan, “Tegaknya suatu bangsa sangat tergantung pada akhlak bangsanya. Ketika mereka tidak lagi menjunjung tinggi akhlaqul karimah, maka bangsa itu akan lenyap bersamaan dengan keruntuhan akhlaknya.”

Ada sebuah tulisan berjudul, ‘Fikih Air,’ yang menjelaskan tentang bagaimana akhlak seseorang Muslim seharusnya terhadap air. Ketika di suatu tempat masih terdapat sumber air, maka di sana masih ada kehidupan. Sebaliknya, jika sudah tidak ada air, maka tidak akan ada kehidupan. (Jurnal Persyarikatan Muhammadiyah). 

Akhlak seseorang terhadap air adalah menggunakannya seefisien mungkin. Dari hasil penelitian seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), ditemukan bahwa setiap orang berwudhu menghabiskan minimal tiga liter air. Ternyata yang benar-benar digunakan untuk berwudu hanya sepertiganya saja. Sisanya terbuang sia-sia (tabzir)..

Manusia bernilai disebutkan dalam Al-Qur’an adalah yang selalu memakmurkan bumi Allah, bukan yang membuat kerusakan di atasnya. Seperti menyia-nyiakan air, dan perbuatan merusak lainnya, maka orang tersebut sudah tidak bernilai lagi. “Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya.” (QS. 11:61).

Manusia bernilai disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW., ”Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, perumpamaan orang beriman (bernilai) itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih tidak merusak batang yang dihinggapinya.” (HR. Ahmad, Al-Hakim, dan Al-Bazzar).

Manusia bernilai adalah khalifah Allah yang bertugas menjadi pemakmur, bukan perusak bumi Allah, yang memiliki tiga karakter serba bersih, yaitu makan dari sesuatu yang bersih, membuang sesuatu yang bersih, dan berada di mana saja di tempat yang bersih, dengan menjaga lingkungan hidup yang bersih pula. 

Pesan moralnya, bahwa manusia bernilai itu seperti lebah, hewan cerdas, tidak mau menyakiti, rendah diri (tawadhu’), bermanfaat, selalu merasa cukup (qona’ah),  menjauhi kotoran, makananya halal dan thayyib (wara’), tidak mau makan dari hasil kerja keras orang lain, atau tidak mau mengambil yang bukan haknya.

Kemudian, siapakah manusia perusak bumi Allah?. Di antara kita ada yang mengartikan ’kerusakan di muka bumi’ hanya sebatas pada hal-hal yang nampak, seperti bencana alam, kebakaran, pengrusakan hutan, tersebarnya penyakit menular dan lainnya. Padahal, banyak kerusakan yang tidak kasat mata. Kerusakan inilah yang paling fatal akibatnya, bahkan yang menjadi sebab terjadinya kerusakan-kerusakan di atas.

Dalam Al-Qur’an disebutkan, bahwa semua kerusakan yang terjadi di muka bumi, dalam berbagai bentuknya, penyebab utamanya adalah perbuatan buruk dan maksiat yang dilakukan manusia. Perbuatan maksiat manusia menjadi sebab utama terjadinya kerusakan-kerusakan di muka bumi saat ini. (QS. 30:41).

Manusia bernilai menjadi pemakmur bumi Allah, yang aktivitasnya selalu mengahdirkan kebaikan-kebaikan di jalan Allah, seperti lebah yang hidupnya selalu di tempat-tempat bersih. Sebaliknya, manusia perusak menjadi para pelaku maksiat kepada Allah, yang aktivitasnya selalu menghadirkan kerusakan demi kerusakan di jalan tersesat, seperti lalat yang hidupnya selalu di tempat-tempat kotor. 

Simpulan

Menjadi sangat penting untuk menjadi manusia bernilai di hadapan Allah. Dan tidak terlalu penting untuk manjadi manusia sukses di hadapan manusia. 
Wallahul A’lam …

Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 8 Muharram 1447 H./4 Juli 2025 M. Pukul 05.25 WIB.

#smartschool