BRAIN ROT

Article Image

Bismillaah,

BRAIN ROT

Salah satu hidayah Allah yang terpenting untuk manusia adalah hidayah akal. Dengan akal, manusia dapat memahami segala fenomena yang ada di muka bumi ini. 

Dengan akalnya, manusia juga dapat memilih jalan hidupnya yang akan ditempuh, apakah jalan kebaikan atau sebaliknya, jalan kejahatan. "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan)." (QS. 90:10).

Bahkan, untuk mewujudkan kemaslahatan hidup manusia di dunia dan akhirat, telah ditetapkan aturan-aturan Allah yang terdapat dalam maqashidus syaria’h. Jika  hal itu tidak terwujud, maka akan timbul kerusakan. Salah satunya adalah menjaga akal (hifdzul ‘aqli).

Salah satu cara syari’at Islam menjaga akal manusia adalah mengharamkan hal-hal yang merusaknya. Islam mengharamkan segala yang memabukkan apa pun nama dan bahannya. Rasulullah SAW. bersabda, "Segala yang memabukkan itu adalah khamar dan setiap khamar itu haram." (HR Muslim).

Di era digital saat ini, fenomena “brain rot” sedang marak terjadi, terutama di kalangan generasi muda juga orang tua, yang banyak mengkonsumsi konten-konten receh, murahan dan tidak bermanfaat. 

Pernah dengar fenomena “brain rot”? Brain itu artinya otak, sedangkan rot itu artinya busuk atau pembusukan. Kalau digabungkan artinya menjadi pembusukan otak. Otaknya busuk? Alias akalnya sudah busuk. Ngeri sekali kan?

Brain rot atau “pembusukan otak” merupakan istilah yang menggambarkan kondisi menurunnya kualitas berpikir akibat terlalu banyak terpapar konten-konten receh yang merusak dan tidak memiliki nilai edukatif sama sekali. Dampaknya berujung pada berkurangnya produktivitas, lemahnya daya analisis, dan hilangnya kesadaran tentang sesuatu yang lebih bermakna dalam kehidupan.

Karena populernya istilah brain rot, sampai-sampai Oxford University menobatkan sebagai Word of the Year 2024. Berdasarkan rilisnya, frekuensi penggunaan istilah brain rot ini signifikan meningkat antara tahun 2023 sampai dengan 2024. Hal ini menggambarkan kekhawatiran tentang dampak mengkonsumsi konten-konten berkualitas rendah di media sosial dalam jumlah berlebihan. 

Mengembangkan literasi digital, menerapkan mindful consumption, dan meluangkan waktu untuk digital detox adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah dampak negatif dari fenomena brain rot ini, untuk mencapai kehidupan yang lebih bermakna.

Islam sangat menjunjung tinggi terhadap akal manusia, seperti dapat dilihat berikut ini.

Pertama, Allah hanya menyampaikan kalam-Nya kepada orang yang berakal karena hanya mereka yang dapat memahami syari’at-Nya. Kedua, Akal merupakan syarat yang harus ada dalam diri manusia untuk dapat menerima taklif (beban syari’at) dari Allah. Syari’at Allah tidak berlaku bagi orang gila yang tidak memiliki akal.

Ketiga, Begitu banyak perintah tentang menggunakan akal dalam Al Qur’an, yaitu untuk tadabbur dan tafakkur, seperti la’allakum tatafakkarun (mudah-mudahan kamu berfikir) atau afalaa ta’qilun (apakah kamu tidak berpikir).

Subhanallah, ada hal yang menarik, bahwa tingkat literasi penduduk Gaza ternyata istimewa. Menurut Middle East Eye(MEE), bahwa tingkat literasi mereka di Gaza dan di Tepi Barat secara khusus yang berusia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 97,2%, dengan literasi laki-laki sebesar 98,7% dan perempuan sebesar 95,7%. 

Mereka tetap mengaji dan membaca buku-buku meski di tengah Thufan Al-Aqsa. Ada yang meraih gelar magister dari bawah naungan tenda pengungsi. Ada yang meraih gelar Hafizhul Qur’an 30 juz dalam kamp-kamp sederhana dengan fasilitas terbatas. Bahkan, di bawah tanah, mereka pernah merilis video tengah merencanakan taktik dan terlihat buku-buku di dekat peta strategi mereka.

Apa rahasianya? Karena mereka memanfaatkan akalnya sesuai perintah Allah. Akal adalah anugerah terbesar. Kalau kita tidak menjaganya, kita akan kehilangan potensi terbaik kita. Maka, setiap kali kita tergoda untuk kembali ke konten-konten recehan, ingat firman Allah dalam QS. 3:190-191.  

Bagaimana dengan negara kita? Indonesia menjadi salah satu negara dengan pengguna medsos terbesar. Pengguna medsos di Indonesia mencapai 61,2% dari total populasi, dengan total pengguna hampir 170 juta orang. Durasi rata-rata penggunaan medsos 3 sampai 11 jam per hari. Detailnya, WhatsApp (91%), Instagram (83%), dan TikTok (70%). 

Hampir ¾ jumlah penduduk Indonesia setiap hari berinteraksi di dunia maya. Indonesia berada di peringkat ke-4 sebagai pengguna medsos terbanyak di dunia. Boleh-boleh saja, ketika untuk mindful consumption, bukan untuk brain rot.

Simpulan

Menjaga akal (hifdzul ‘aqli) untuk menjadikan hidup lebih bermakna, menjadi cara bersyukur hamba kepada Rabb-nya. Sebaliknya, merusak akal dengan melakukan brain rot, mejadi bentuk kufur hamba atas nikmat-nikmat-Nya. 
Wallahu A’lam …

Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 26 Syawwal 1446 H./25 April 2025 M. Pukul 05.25 WIB.