Bismillaah,
GOD’S LANGUAGE
Sebelum Al-Qur’an diturunkan, bangsa Arab sudah terkenal dengan bahasa dan sastranya. Siapapun mengakui keindahan bahasa dan karya sastra mereka.
Keindahan bahasa dan karya sastra menurut bangsa Arab adalah simbol kebanggaan, yang pada zamannya, belum bahkan tidak ada yang mampu menandinginya.
Setelah Al-Qur’an diturunkan, bahasa dan karya sastra orang Arab seakan lumpuh, terkalahkan oleh indahnya bahasa Al-Qur’an. Sehingga mereka banyak meniru gaya bahasa dan sastra Al-Qur’an. Faktanya, meski mereka (jin dan manusia) berhimpun, tidak pernah mampu meniru-nirunya (QS. 17:88).
Demikianlah, keindahan bahasa Allah dalam Al-Qur’an sebagai mu’jizat terbesar Nabi Muhammad, diturunkan dengan berhasa Arab, yang bertujuan agar manusia mau menggunakan akalnya (QS. 12:2).
Seperti kisah masuk Islam seorang Umar bin Khattab. Beliau orang yang paling keras menentang Islam, bahkan hendak membunuh Nabi Muhammad. Ketika beliau pergi ke rumah adiknya, Fathimah, didapatinya sang adik sedang membaca Al-Qur’an.
Umar pun terkaget dan marah kepada Fathimah. Namun, seketika mendengar ayat-ayat yang sedang dibacakan adiknya, beliau menangis dan bergetar hatinya, “Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.
Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut kepada Allah”
(QS. 20:2-3).
Ungkapan yang paling sesuai untuk menggambarkan keindahan bahasa dan satra Al-Qur’an, seperti berikut ini, “Pada setiap tempat ada ungkapannya yang tepat, dan pada setiap ungkapan ada tempatnya yang tepat”.
Berikut ini indahnya bahasa Allah dalam Al-Qur’an untuk hamba-hamba-Nya.
Pertama, berlarilah untuk urusan akhirat.
Untuk urusan akhirat, Al-Qur’an menggunakan kata ‘berlarilah.’ Hal ini menunjukkan urusan akhirat berada di atas kepentingan lainnya.
Firman Allah, “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. 62:9).
Kedua, berjalanlah untuk urusan dunia.
Kita diperintahkan berjalan untuk urusan dunia. bukan berlari. Karena, semua usaha yang kita lakukan tidak dapat memberi manfaat apapun bagi kita, kecuali bila Allah memudahkannya bagi kita. “Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan” (QS. 67:15).
Pesan Rasulullah, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Allah akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung pergi di pagi hari dalam keadaan perut kosong dan pulang di petang hari dalam keadaan perut kenyang” (HR. Tirmidzi).
Ketiga, berlomba-lombalah untuk urusan kebaikan.
Untuk kebaikan, kita disuruh berlomba-lomba. Sampai para sahabat Rasulullah selalu merasa iri dengan Abu Bakar, karena tidak ada yang mampu menandinginya dalam hal kebaikan. Rasulullah pernah bertanya, “Siapakah di antara kalian pagi ini yang sudah menolong orang kesusahan, menjenguk orang sakit dan mengantarkan jenazah.?”
Ketiga kebaikan tersebut, sejak pagi hari sudah dilakukan oleh Abu Bakar, sesuai pesan Allah, “Berlomba-lombahlah kalian dalam kebaikan” (QS. 2:148).
Keempat, bersegeralah untuk urusan ampunan.
Dalam meraih ampunan Allah, kita disuruh untuk bersegeralah. Tidak ada alasan untuk menunda-menundanya. Karena, ajal kematian seseorang tidak dapat diundurkan atau dimajukan. Maka, segera bertaubat, menyesali dan tidak mengulangi lagi. Sebelum matahari terbit di Barat, pintu taubat masih terbuka lebar.
Firman Allah, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. 3:133).
Pengakuan jujur, A. Schimmel, seorang Orientalis Jerman, "Al-Qur’an adalah firman Tuhan, diilhami bahasa Arab yang jernih, dan terjemahannya tidak akan melampaui tingkat yang dangkal. Jadi siapa yang bisa menggambarkan keindahan firman Tuhan dalam bahasa apapun?.”
Simpulan
Untuk urusan akhirat, berlarilah, urusan dunia, berjalanlah, urusan kebaikan, berlombalah dan urusan ampunan bersegeralah. Belum pernah ada bahasa di dunia ini, seindah bahasa Allah dalam kitab suci-Nya, Al-Qur’an.
Wallahu A’lam …
Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 25 Shafar 1446 H./30 Agustus 2024 M. Pukul 05.25 WIB.