Bismillaah,
DON’T JUSTIFY ANY MEANS
Ada narasi culas yang berbunyi, ‘yang penting niat dan tujuannya baik’. Maka, apa dan bagaimanapun caranya boleh dilakukan, asal tujuan tercapai.
Jangan menghalalkan segala cara (Don’t justify any means) untuk meraih apa pun. Ikuti rambu-rambu syariat Allah. Jangan pula ikuti keinginan orang-orang yang suka menabrak-nabrak konstitusi dan aturan Allah hanya untuk memenuhi syahwat politiknya (QS. 45:18).
Seperti hari ini, untuk meraih sebuah kekuasaan, berbagai manuver politik dilakukan, dengan alasan, setelah berkuasa nanti akan memberi manfaat kepada banyak orang. Padahal Islam telah menuntun kita, ketika melakukan sesuatu tidak boleh menyelisihi syariat Allah, meski niat dan tujuannya baik.
Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, bahwa berpolitik (As-Siyasah) bagi umat Islam adalah melakukan “segala perbuatan yang membawa manusia pada kemaslahatan dan menjauhkan dari kerusakan”.
Berpolitik dalam Islam bukan sekedar urusan “Who gets what, when and how”, artinya siapa mendapatkan apa, kapan, dan bagaimana caranya meraih kekuasaan tersebut. Sebuah nasehat sejuk dari Ibnu Taimiyyah, “Berpolitik harus dilandasi dengan nilai-nilai kebenaran, kebaikan dan kepatutan, yang disebut dengan “As-Siyasah Asy-Syar’iyyah”.
Fakta menunjukkan, bahwa politik praktis selalu beririsan dengan hal-hal yang pragmatis. Sehingga, setiap kelompok atau partai pada akhirnya saling memperebutkan kekuasaan. Kekuasaan inilah yang menjadi ukuran dan tujuan utama mereka dalam berpolitik.
Selanjutnya, karena berpolitik semata-mata berurusan dengan perjuangan meraih, menduduki dan mempertahankan kekuasaan, maka terjadilah penghalalan segala cara demi mencapai tujuannya. Dan dari tujuan kekuasaan inilah mengalir cuan yang dijadikan alat transaksi dalam berpolitik.
Ingat Machiavelli (1469-1527), tokoh politik zaman Renainssance, yang berpendapat bahwa etika dan moral tidak diperlukan dalam berpolitik, karena akan memperlemah negara. Menurutnya, demi kekuasaan politik, setiap pelaku politik harus berani memperjuangkan kekuasaannya dengan cara-cara melakukan apa saja, the end justifies the means. Tujuan dapat menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara yang mengatasnamakan agama.
Maka siapapun kita, yang hidupnya hanya berorientasi pada tujuan, tanpa mempedulikan cara mencapainya yang tidak sesuai aturan syariat Allah, maka tidak ada balasan baginya, kecuali Allah menistakannya di dunia dan diazab yang berat di akhirat (QS. 2:85).
Berpolitik dalam Islam adalah salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Di antara tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah di hari akhir, adalah pemimpin yang adil. Pemimpin dengan kekuasaan di tangannya berpeluang mendapatkan pahala yang besar
(QS. 24:55).
Jadi, sangatlah naif ketika politik hanya berhenti pada tujuan duniawi saja. Jargon, ‘Kekuasaan untuk kekuasaan’, adalah jargon sekuler. Dalam pandangan Islam, ‘Politik adalah untuk ibadah. Politik bukan hanya sekedar berebut kekuasaan’.
Lebih ditegaskan lagi oleh Umar bin Abdul Aziz, bahwa, “Islam dan kekuasaan itu ibarat saudara kembar. Satu sama lain saling membutuhkan.” Juga diperkuat oleh Imam Ghazali, “Islam dan kekuasaan ibarat dua saudara kembar. Keduanya lahir dari satu rahim yang sama.”
Sekali lagi, sebagai umat Islam kita wajib berpolitik untuk memiliki kekuasaan . Tetapi bukan politik kekuasaan ala Machiavelli yang menghalalkan segala cara dalam merebut kekuasaan, yang ditengarai saat ini banyak dipraktekkan oleh para politisi kotor kita di Indonesia, seperti money politic, hoax, dan hatespeech.
Juga bukan politik kotor, menjijikan, penuh ketidakjujuran, tipu-tipu, berkoalisi dengan kebathilan dan tidak lagi berpihak pada aspirasi konstituennya setelah duduk nyaman di kursi parlemen yang difasilitasi penuh dari uang dan pajak rakyat.
Terakhir, untuk para politisi Muslim yang masih ‘istiqamah’ di jalan da’wah, segera kembali meneladani nilai-nilai politik Nabi Muhammad periode Madinah, seperti ukhuwwah, persatuan, musyawarah, at-ta’awun, dan keadilan menuju masyarakat madani yang berkemajuan.
Simpulan
Berpolitik dalam Islam menjadi salah satu bentuk ibadah kepada Allah. Bukan sekedar berebut kekuasaan, dengan menghalalkan segala cara.
Tujuan mulia berpolitik adalah untuk membawa rakyat pada kemaslahatan, menjauhkan dari kerusakan dan tidak menyelisihi aturan Allah.
Fastabiqul khairaat …
Oleh : Nur Alam, Jum’at Penuh Berkah, 18 Shafar 1446 H./23 Agustus 2024 M. Pukul 05.25 WIB.