GOD’S PROMISE

Article Image

Bismillaah,

GOD’S PROMISE

Oleh : Nur Alam

Sebuah penyesalan yang mendalam, ketika ibadah Ramadhan yang selalu kita jalani setiap tahun, hampir tidak ada peningkatan kualitas ibadah kita.

Padahal, ampunan Allah di bulan Ramadhan lebih dahsyat dari dosa yang pernah kita perbuat. Begitu banyak janji Allah (God’s promise) dan fasilitas yang diberikan-Nya bagi orang-orang yang beriman di bulan yang penuh kemuliaan ini (QS. 2:183).

Disebutkan dalam banyak hadits shahih, di antara janji Allah dan fasilitas-Nya adalah ampunan (maghfirah) di sisi-Nya, bau mulut yang wangi, mendapat syafa’at dengan puasanya, memasuki surga via pintu Ar-Rayyan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, syetan diikat, ada satu malam yang sangat istimewa, mendapat dua kegembiraan dan mendapat pahala yang tak terbatas (HR. Ahmad dan An-Nasa’i)
 
Para sahabat Rasulullah sudah menyiapkan banyak bekal sebelum berangkat menjemput janji-janji Allah di bulan yang mulia ini, “Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu” (QS. 9:46).

Begitu banyaknya janji Allah bagi orang yang beriman di bulan Ramadhan, sampai para Ulama Salaf mengatakan, ”Mereka (para sahabat) berdo’a kepada Allah selama enam bulan agar mereka dapat menjumpai bulan Ramadhan. Kemudian mereka berdo’a lagi selama enam bulan berikutnya agar semua amalan mereka diterima.”

Do’a mereka yang sangat terkenal, “Ya Allah, selamatkanlah aku agar bisa berjumpa dengan Ramadhan, selamatkanlah aku agar berhasil menjalani Ramadhan, dan terimalah amal-amalku.”

Tapi, betapa banyak saudara kita yang terhalang dari janji Allah yang agung ini, baik karena kematian mendahuluinya, sakit yang menggerogoti tubuhnya, atau karena kurangnya ilmu yang membuat dirinya hanya terdiam tanpa beramal untuk mendulang pahala yang berlipat ganda.

Ibnul Qoyyim, dalam Zadul Ma’ad, mengisahkan kondisi Rasulullah di bulan Ramadhan. Rasulullah memperbanyak ibadah pada bulan tersebut, mulai dari membaca Al-Qur’an, infaq, sedekah, berbuat baik kepada orang lain, shalat, zikir, i’tikaf dan ibadah lainnya yang beliau lakukakan melebihi di bulan lainnya. 

Di sisi lain, memang motivasi sebagian kita dalam menjalani Ramadhan berbeda-beda. Seperti anak-anak sangat berbahagia, karena mereka akan berlebaran dengan baju barunya. Para pegawai berbahagia, karena ada THR yang ditunggu-tunggunya. Para perantau berbahagia, karena akan mudik lebaran bertemu sanak keluarga di kampung halaman. Dan para pedagang dan kuliner juga berbahagia, bahkan mereka mengharap semua bulan menjadi Ramadhan dalam setahun, karena omset penjualan mereka sangat menjanjikan dibanding bulan-bulan lainnya. 

Karena janji Allah yang sangat istimewa di bulan Ramadhan ini, maka kita harus jealous dengan aktivitas para sahabat Nabi berikut ini.

Pertama, Berinteraksi dengan Al-Qur’an
Hari dan malam mereka disibukkan dengan membaca Ak-Qur'an dan mentadabburinya. Karena fokusnya membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, sampai mereka meninggalkan majelis ilmu dan menjauhi berinteraksi dengan manusia. Mereka bisa mengkhatamkan Al-Qur’an 2 atau 3 hari sekali, padahal di luar Ramadhan sampai 7 hari sekali khatam. Bahkan ada sahabat yang setiap hari mengkhatamkan Al-Qur’an.

Kedua, Mendirikan Shalat Malam
Tidak ada ibadah yang lebih besar pahalanya selain shalat malam. Maka, para sahabat benar-benar menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan mendirikan shalat tarawih dan tahajud dengan bacaan surat yang cukup panjang. Mereka biasa mengkhatamkan Al-Qur’an selama 7 malam, dan shalat malam mereka baru berakhir menjelang waktu subuh. 

Ketiga, Menjadi Dermawan 
Pintu sedekah terbuka lebar di bulan Ramadhan. Rasulullah adalah orang yang paling dermawan di bulan Ramadhan melebihi di bulan lainnya. Kedermawanannya melebihi angin yang berhembus. Juga Umar bin Khattab, ketika berbuka puasa tidak pernah sendirian, selalu bersama orang-orang miskin. Namun, sedekah tidak hanya terbatas pada harta dan makanan, bisa berupa tenaga, pikiran, dan tak kalah pentingnya juga ilmu.  

Ramadhan, tak hanya harus kuat menahan nafsu terhadap makanan, minuman dan syahwat duniawi. Namun juga harus mampu menaklukan rasa pelit, bakhil dan serakah. Hasil didikan Ramadhan harus menghadirkan pribadi Muslim yang lebih dermawan.

Simpulan 

Jangan biarkan janji-janji Allah di bulan Ramadhan berlalu tanpa ada peningkatan kualitas ibadah. Bersungguh-sungguhlah beribadah seperti para Salafus Shalih.

Tidak ada jaminan, bahwa kita masih dipertemukan Allah dengan Ramadhan yang akan datang. Jadikanlah ibadah Ramadhan tahun ini kesempatan yang terakhir dalam hidup ini. 
Fastabiqul khairat …..
-
Kranggan Permai, Jum’at Penuh Berkah, 5 Ramadhan 1445 H./15 Maret 2024 M. Pukul 04.23 WIB.