Bismillah,
GUIDE US TO THE STRAIGHT PATH
Minimal 17 kali kita membaca ayat ini dalam shalat 5 waktu, yaitu “Berilah kami petunjuk ke jalan yang lurus” (Guide us to the straight path).
Ayat ini sangat familiar, sebab selalu terucap dari lisan seorang Muslim dalam shalatnya. Ayat ini sesungguhnya menduduki posisi yang teramat sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Sebab ini terkait dengan nasibnya di masa depan, juga di akhirat kelak (QS. 1:6).
Mengapa kita harus memohon petunjuk Allah (Hidayatullah) sampai 17 kali? Bukankah kita sudah berada di jalan yang benar? Seorang Muslim dalam hidupnya tidak bisa lepas dari hidayah Allah SWT. Dia membutuhkan hidayah Allah melebihi dari kebutuhannya terhadap sandang, pangan dan papan. Ini menunjukkan pentingnya hidayah Allah dalam kehidupan Muslim.
Hari ini, seperti digambarkan oleh Rasulullah, bahwa fitnah itu seperti potongan malam yang kelam, paginya seseorang masih beriman, namun sore harinya sudah menjadi kafir. Sorenya masih beriman, namun pagi harinya sudah menjadi kafir. Dia sudah menjual agamanya demi sedikit dari harta dunia.
Benarlah hidayah itu sangat mahal. Ia tidak diberikan kepada orang-orang yang hanya bisa mengharap tanpa mau berusaha. Ia diberikan hanya kepada mereka yang mau bersungguh-sungguh mencarinya dan berusaha mendapatkannya (QS. 29:69).
Betapa mahalnya hidayah ini. Maka, jagalah hidayah ini. Teruslah memohon agar seiring bertambahnya usia kita, semakin mantap hidayah Allah di dalam dada. Semakin dekatnya waktu pertemuan kita dengan Allah, semakin kuat menghujam hidayah ini. Teruslah berdo’a, agar akhir hidup ini berakhir bersama hidayah Allah.
Di sisi lain, Imam Ibnul Jauzi Rahimahullah menjelaskan ada empat perkataan Ulama tentang makna Ihdinas shiratal mustaqim, yakni: Al-Qur’an (Kitabullah), jalan petunjuk menuju Agama Allah, jalan menuju surga dan Nabi Muhammad SAW sendiri.
As-Sa’di Rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya, bahwa hidayah berupa petunjuk ke jalan yang lurus adalah hidayah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama-agama selain Islam.
Sedangkan Syaikh Shalih Fauzan Rahimahullah menjelaskan, makna shirat (jalan) di sini adalah Islam, Al-Quran, dan Rasulullah. Ketiganya disebut dengan ‘jalan’ karena mengantarkan kepada Allah SWT. Sedangkan Al-Mustaqim adalah jalan yang lurus, tidak bengkok dan jelas yang tidak akan menyesatkan orang yang melaluinya.
Hidayah adalah petunjuk yang diberikan Allah untuk seseorang, berupa terbukanya hati dan dada untuk meyakini kebenaran syari’ah Islam. Hidayah menjadi sebab utama kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat. Maka, “Siapa saja yang dimudahkan Allah untuk meraihnya, sungguh dia telah meraih keberuntungan yang besar” (HR. Tirmidzi).
Sedangkan, Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar, menjelaskan ada 5 hidayah Allah, yaitu (1) Al-Wijdan atau Hidayah Ilham, berupa berupa naluri atau inspirasi, (2) Al-Hawwas, berupa petunjuk panca indera, (3) Al-‘Aql, berupa petunjuk penggunaan akal atau rasio, (4) Ad-Din, berupa petunjuk wahyu atau agama Islam dan (5) At-Taufiq, berupa petunjuk pertolongan Allah.
Kemudian, apa bedanya antara Hidayah dan Taufiq? Hidayah dan Taufiq, keduanya merupakan karunia besar Allah yang diberikan kepada hamba yang dicintai-Nya. Hidayah bisa bermakna petunjuk atau bimbingan, sedangkan Taufiq bermakna kekuatan dan pertolongan Allah kepada seseorang untuk memenuhi seruan-Nya.
Bagaimana cara memperoleh hidayah Allah? Allah akan memberikan hidayah kepada siap saja hamba-Nya tanpa terkecuali, jika mereka bersungguh-sungguh untuk memperoleh hidayah tersebut. Maka, hidayah dapat dijemput dengan banyak cara (QS. 28:56).
Pertama, dapat dilakukan dengan membaca Al-Qur’an (membacanya, mempelajarinya, mengamalkannya dan mentadabburinya). Kedua, dapat diperoleh dengan mempelajari sunnah-sunnah Rasulullah SAW, baik dari perkataan, perbuatan maupun penetapannya. Dengan ikhtiar-ikhtiar tersebut, Allah akan memberi hidayah-Nya.
Kebanyakan orang meraih hidayah, ketika jiwanya sedang remuk redam disebabkan karena musibah yang sedang menimpanya. Musibah ini menumbangkan semua kesombongannya, meluluh-lantakkan ketidakpeduliannya terhadap Allah. Akhirnya, hamba ini terselamatkan, kembali kepada jalan Allah. Ini semua karena hidayah Allah.
Harus diyakini bahwa kita bisa menjadi Muslim, shalat berjama’ah, menuntut ilmu-ilmu syar’i, menolong orang, berinfaq, shadaqah, tidak melakukan ribawi dan lainnya, itu karena hidayah Allah semata. Maka, jangan pernah lelah untuk menjemput dan hidup bersama hidayah Allah.
Kesimpulan
Hidayah Allah menjadi salah satu nikmat yang paling agung dari sekian banyak nikmat-Nya. Dan nikmat hidayah ini menjadi nikmat yang bernilai sangat istimewa.
Hanya dengan hidayah Allah, manusia akan dituntun ke jalan yang lurus, jalan yang membahagiakan hidupnya di dunia, kemudian di akhirat kelak.
Fastabiqul khairat …
Kranggan Permai, Jum’at Penuh Berkah, 8 Shafar 1445 H./25 Agustus 2023 M. Pukul 05.23 WIB.