INDEPENDENT WITHOUT INDEPENDENCE Oleh : Nur Alam

Article Image

Bismillah,

INDEPENDENT WITHOUT INDEPENDENCE 

Sudah merdeka tetapi tidak merasakan makna dari kemerdekaan itu sendiri (Independent without independence), demikian kurang lebih maksud judul tulisan di atas.  

Merdeka artinya bebas dari segala penjajahan atau penghambaan. Kemerdekaan adalah suatu keadaan di mana seseorang atau negara bisa berdiri sendiri, bebas dan tidak terjajah.

Merdeka atau bebas secara maknawi sejatinya adalah situasi batin yang terlepas dari segala rasa yang menghimpit, menekan, menderitakan jiwa, pikiran dan perasaan, baik yang datang dari dalam diri sendiri maupun dari luar.

Di awal bulan Agustus 2023 ini, semarak menyambut hari ulang tahun kemerdekaan Republik ini mulai diramaikan dengan bendera, spanduk, umbul-umbul dan baliho yang bertuliskan “Dirgahayu Kemerdekaan RI.”, menghiasi semua jalan protokol sampai gang-gang sempit.

Memang tinggal hitungan 6 hari lagi bangsa Indonesia akan merayakan kemerdekaan negaranya yang ke-78. Benarkah, kita sudah merdeka tetapi tidak merasakan arti dari kemerdekaan itu sendiri? Apa makna kemerdekaan hakiki menurut Al-Qur’an? Dan bagaimana kita mengisi nikmat kemerdekaan ini sesuai Al-Qur’an?   

Al-Qur’an secara tersirat menyebutkan, setidaknya ada beberapa ayat yang berbicara tentang kemerdekaan.

Pertama, kisah perjalanan spiritual Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan, untuk membebaskan hidupnya dari keyakinan yang keliru, yaitu keyakinan nenek moyangnya sebagai penyembah berhala (QS. 6:76-79).

Kedua, kisah Nabi Musa ketika membebaskan bangsanya dari penindasan Fir’aun. Beliau tergerak memimpin bangsanya untuk membebaskan diri dari penindasan, dan akhirnya meraih kemerdekaan sebagai bangsa yang mulia dan bermartabat 
(QS. 2:49).

Ketiga, kisah sukses Nabi Muhammad SAW. menghadapi masyarakat yang sedang mengalami tiga penjajahan sekaligus, yakni disorientasi hidup (QS. 31:13), penindasan ekonomi (QS. 104:1-4) dan kezaliman sosial 
(QS. 49: 13).

Allah sangat mengistimewakan manusia dibanding makhluk-Nya yang lain. Selain ilmu dan akal, kemuliaan dan kelebihan manusia dari makhluk lainnya adalah kecenderungannya untuk terbebas dari penindasan dan penjajahan. “Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. 17:70).

Rustum, seorang Panglima Perang Persia, pernah bertanya kepada utusan Pasukan Islam dalam perang Qadishiyah perihal kedatangannya. Sang utusan menjawab, “Allah mengutus kami (Rasul) untuk memerdekakan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia kepada Rabb manusia, dari sempitnya kehidupan dunia kepada kelapangannya, dari ketidakadilan agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.”

Sampai saat ini, minimal ada 4 bentuk penjajahan yang menjadikan manusia sudah merdeka tetapi tidak merasakan makna dari kemerdekaan itu sendiri.
  
Pertama, Iblis La’natullah
Iblis lah penjajah paling bahaya dan menyesatkan manusia dari hidayah Allah sampai hari kiamat. Dengan bujuk rayunya, manusia disesatkan dari jalan Allah. Maka, jadikan Iblis sebagai musuh abadi kita sampai kiamat (QS. 15:39-40).

Kedua, Nafsu Syahwat
selalu mengajak manusia kepada keburukan dan kesesatan. Nafsu dan syahwat terus menjajah manusia untuk melawan syariat Allah dan baru berhenti menggoda ketika manusia sudah berkalang tanah (QS. 12:53).

Ketiga, Cinta Dunia
cinta dunia selalu menampakkan kedigdayaannya dalam menjajah manusia. Penjajah yang satu ini tak puas-puasnya berbuat ulah. Padahal hampir semua darah yang tertumpah di permukan bumi Allah ini atas namanya. Maka, berzuhudlah dari cinta dunia (HR. Ibnu Majah).

Keempat, Ghazwul Fikri
perang pemikiran ini menjadi gerakan invasi nilai-nilai yang menyesatkan dan merusak keyakinan, pemikiran dan moralitas umat Islam agar menjauhi syariat Islam. Metode jajahannya tersembunyi melalui buku-buku, majalah, bulletin, media cetak, televisi, internet, mode, makanan dan hiburan (QS. 45:18).

Maka, memaknai nikmat kemerdekaan sejatinya adalah ketika kita menang melawan Iblis dan konco-konconya, mampu menundukkan nafsu syahwat, berzuhud terhadap dunia dan tidak terprovokasi dengan invasi pemikiran Barat yang sesat menyesatkan. 

Simpulan 

Seorang Muslim yang mampu melepaskan diri dari 4 bentuk penjajahan di atas, maka sesungguhnya dia menjadi manusia yang paling mulia di hadapan Allah. 

Dia sudah menjadi Muslim yang benar-benar merdeka dan merasakan makna dari kemerdekaan itu sendiri.
Fastabiqul khairat …
Kranggan Permai, Jum’at Penuh Berkah, 24 Muharram 1445 H./11 Agustus 2023 M. Pukul 05.21 WIB.