Bismillah,
Salah satu dari pesan berqurban (Message of sacrifice) adalah bagaimana seorang Muslim bertambah kokoh atau kuat keimanannya dalam mentaati perintah Allah.
Dalam konteks di atas, Al-Qur’an telah mengabadikan bahwa sosok Nabi Ibrahim As. adalah benar-benar salah satu sosok dari hamba Allah yang sangat kokoh dan kuat keimanannya (QS. 37:111).
Keteladanan Nabi Ibrahim bersama puteranya Ismail dalam hal kokoh dan kuat keimanannya, dapat dipelajari dalam Al-Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 99-111. Kekuatan iman kedua Nabiyullah ini terbukti setelah lulus dari berbagai godaan Iblis lakanatullah.
Godaan dahsyat Iblis ini seperti dikisahkan oleh Imam At-Thabari dalam kitabnya ‘Tarikhut Thabari’. Ketika perintah Allah kepada Ibrahim untuk menyembelih puteranya, Ismail, ia berkata, “Wahai anakku, ambillah sebilah pisau dan seutas tali kemudian ikut aku ke sebuah syi’ib (lembah).”
Iblis yang menyamar menjadi seorang lelaki datang menghalangi Nabi Ibrahim dan berkata, “Demi Allah, sungguh aku telah melihat setan mendatangi engkau dalam mimpimu dan menyuruhmu untuk menyembelih anakmu ini, lantas engkau ingin menyembelihnya?” Ibrahim menjawab, ”Engkau tidak akan mendapatkan apapun dariku wahai musuh Allah, sungguh demi Allah akan kuteruskan perjalanan ini untuk melaksanakan perintah Allah.”
Gagal menggoda Nabi Ibrahim, kini giliran Ismail. Iblispun berkata, “Demi Allah, sesungguhnya ayahmu membawamu ke syi’ib untuk menyembelihmu.” Ismail kecilpun menjawab, “Jika demikian, lakukanlah apa yang telah diperintahkan Allah, maka aku akan tunduk dan patuh pada perintah-Nya.”
Setelah gagal menggoda Ismail, kini giliran Siti Hajar, ibunda Ismail. Iblis berkata, “Wahai ibunda Ismail, demi Allah bahwa Ibrahim pergi ke syi’ib bersama Ismail untuk menyembelihnya.” Siti Hajar menjawab, “Jika Allah memerintahkan hal tersebut, maka aku akan tunduk dan patuh terhadap perintah-Nya.”
Sekali lagi, berqurban bukan untuk tujuan mencari popularitas, menarik simpati, dipuji orang dan sterusnya. Berqurban menjadi salah satu bukti kuatnya keimanan seorang hamba kepada Rabb-Nya. Bagaimanapun beratnya perintah itu, seperti beratnya godaan Iblis kepada Nabi Ibrahim dan puteranya ketika itu.
Sebagai seorang ayah dan bunda, sudahkah memberikan didikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Bekal didikan yang bukan hanya memacu kecerdasan otak anak-anaknya untuk mengejar prestasi akademik semata, dengan mengabaikan didikan tauhid, aqidah, akhlaqul karimah dan amal shalih lainnya.
Jangan pernah menjadi ayah dan bunda yang bangga dengan sejumlah kesuksesan duniawi yang diraih putera puterinya. Di dunia, mereka adalah anak-anak yang sukses dalam meraih prestasi, gelar, karir, jabatan, harta dan seterusnya, tapi untuk apa kalau gagal dalam meraih kebahagiaan ukhrawi?
Contoh bekal didikan yang berorientasi ukhrawi (afterlife-oriented) dengan meneladani Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, seperti di bawah ini.
Pertama, Semangat Mencari Kebenaran
Meski ayahnya pembuat dan penyembah patung, Ibrahim muda tidak taqlid mengikuti jejak ayahnya. Ia kritis mencari kebenaran sampai diyakini bahwa Allah adalah Tuhan Semesta Alam.
(QS. 19:41-47).
Kedua, Rasional dalam Mencari Kebenaran
Sebelum menemukan Allah sebagai Tuhannya, Ibrahim menjadikan matahari, bulan, atau alam semesta sebagai sembahannya. Namun, rasionalnya menolak semua itu (QS. 6:76-78).
Ketiga Sabar dalam Ujian
Ujian Nabi Ibrahim sangat berat. Ayahnya sebagai penyembah berhala, belum dikarunia anak keturunan dan lainnya. Dihadapi semua ujian itu dengan tingkat kesabaran yang tinggi
(QS. 30:60).
Keempat, Memposisikan Allah di Atas Segalanya
Ketika perintah Allah datang untuk menyembelih anak kesayangannya, tanpa berpikir panjang, dilaksanakan hal tersebut. Karena ia memposisikan perintah Allah harus di atas segalanya (QS. 48:10).
Kelima, Berkorban di Jalan Kebenaran
Setelah menerima wahyu Nabi Ibrahim tidak berdiam diri. Beliau berkorban waktu, harta, tenaga, jiwa dan pikirananya untuk mengajak umatnya ke jalan kebenaran dan menjadikan negerinya dalam kondisi penuh kemakmuran (QS. 2:126).
Kesimpulan
Pesan berqurban untuk para orang tua Muslim di era ini adalah mendidik dan menghadirkan anak keturunannya menjadi generasi Ismail, yang rasional dalam mencari kebenaran, sabar dalam ujian, memposisikan Allah di atas segalanya dan siap berkorban di jalan kebenaran.
Wallahu A’lam …
Kranggan Permai, Jum’at Penuh Berkah, 5 Dzulhijjah 1444 H./23 Juni 2023 M. Pukul 05.17 WIB.